Panasonic Tambahkan Panel Surya di Atap Mobil

Dilihat: 1370

Produsen alat elektronik, Panasonic yang bermarkas di Osaka, Jepang mulai memproduksi panel surya 180 watt yang bisa dipasang di atap mobil. Februari 2017, Panasonics mengumumkan jika panel surya modul photovoltaic mereka akan bisa digunakan di atap mobil Prius plug-in hybrid terbaru.

Mobil dianggap sebagai pasar yang menguntungkan untuk bisnis panel surya. Persaingan dalam industri panel surya dengan pabrik Cina membuat harga panel surya turun drastis. Hal ini menyebabkan beberapa pabrikan mengadopsi panel surya di berbagai tempat, mulai dari atap rumah, tembok bahkan hingga tas punggung dan tenda.

“Atap mobil memiliki potensi untuk menjadi pasar baru untuk panel surya. Kami membuat sejarah dalam industri mobil dan industri solar dengan mobil bertenaga surya yang diproduksi massal pertama di dunia,” kata Shingo Okamoto, general manager Panasonic.

Panasonic rupanya juga bekerja sama dengan Tesla Inc untuk membuat baterai di Gigafactory di luar Las Vegas, Amerika Serikat (AS). Ada 264 juta mobil dan truk yang beroperasi di AS menurut data the National Automobile Dealers Association. Tesla melihat potensi dari panel surya di atap mobil. Elon Musk, kepala Tesla menyatakan jika mobil Model 3 buatan mereka juga akan memiliki atap panel surya.

 

 

Sumber: IndustryWeek.com

Para Peneliti Bangun Rumah Cerdas Dengan Printer 3D

Dilihat: 1112

Beberapa peneliti sudah pernah mencoba membangun rumah cerdas. Biasanya pembangunan dilakukan menggunakan salah satu teknik misalnya dengan teknologi cetak 3D atau robot. Tapi beberapa profesor dari ETH Zurich ini mencoba membangun rumah dengan berbagai teknik canggih yang ada. Rumah yang disebut DFAB House ini kelak akan digunakan untuk menguji teknologi smart home begitu selesai proses pembangunannya.

DFAB House dibangun di komplek bangunan NEST di  Dübendorf, dekat Zurich di Swiss. Rumah itu dibangun oleh para arsitek, spesialis robot, ilmuwan materi, teknisi struktur dan para ahli keberlanjutan dari ETH Zurich bersama dengan rekanan industri termasuk kontraktor Erne AG Holzbau. Rumah itu akan memiliki tiga lantai. Pembangunan rumah didesain, direncanakan dan dilakukan dengan teknik-teknik digital. Tujuannya untuk mencoba menerapkan berbagai teknologi berbasis laboratorium baru dalam dunia nyata.

Pembangunan rumah ini sudah dikerjakan, komponen-komponen rumah dibuat di tempat. Bangunan ini akan memiliki lantai seluas 200 m2 dan akan digunakan sebagai tempat tinggal dan ruang kerja untuk para peneliti tamu dan rekan NEST. Pembangunan diharapkan selesai tahun depan.

Tembok lantai dasar dibangun oleh robot setinggi 2 meter dengan alat cetakan jala dan diisi dengan beton. Muka bangunan lantai dasar akan dibangun dengan metode konstruksi slipform baru disebut Smart Dynamic Casting. Dengan metode ini, elemen-elemen struktural yang kompleks bisa dibangun tanpa perlu cetakan beton. Dua lantai di atasnya akan dibangun dengan elemen-elemen kayu buatan pabrik. Kayu-kayu itu akan disusun oleh tim robot.

Setelah siap ditinggali, DFAB House akan digunakan untuk menguji beberapa teknologi smart home dan IoT (Internet of things) termasuk sistem untuk berkomunikasi dengan dan belajar dari satu sama lain dan sistem kontrol energi.

 

Sumber: ETH Zurich

Teknik Ini Diharapkan Buat Titanium Lebih Murah Untuk Industri Pesawat

Dilihat: 1045

Titanium merupakan salah satu materi logam yang tersedia berlimpah di bumi. Tapi untuk mengolah titanium supaya bisa digunakan, perlu waktu dan energi serta biaya yang mahal. Padahal industri kedirgantaraan adalah industri yang paling sering menggunakan logam ini. Para teknisi pesawat memuji materi ini untuk kekuatannya, korosi yang rendah dan densitas yang relatif rendah. Selain itu materi ini bisa digunakan dengan materi komposit.

Perusahaan bernama Metalysis berbasis di Rotherham, Inggris memiliki visi untuk membuat biaya pengolahan titanium menjadi lebih terjangkau. Mereka ingin memakai proses produksi elektrokimia scalable yang dikembangkan oleh para ilmuwan di Universitas Cambridge. Reaktor dalam proses ini bisa mengubah titanium oksida menjadi titanium dengan menggunakan bentuk elektrolisa dalam kalsium klorida dan bisa memproduksi batang logam. Lebih dari itu, Metalysis percaya jika serbuk logam yang dihasilkan bisa digunakan dalam proses additive manufacturing (printing 3D).

Metalysis sudah mendemonstrasikan proses ini dengan mengolah 20-30 ton serbuk logam. Mereka sedang membangun pabrik modular untuk memamerkan teknologi ini. Proses elektrokimia yang sama bisa digunakan untuk logam atau campuran logam lain. Metalysis sudah membuat resep pengolahan untuk titanium dan untuk logam lain yang lebih langka dan padat, tantalum. Tantalum bisa digunakan untuk pembuatan pelindung pesawat ruang angkasa. Mereka juga sedang berusaha menemukan cara mengolah 10-20 materi logam lainnya.

 

Sumber: AviatonWeek.com

Facebook Uji Drone Aquila Untuk Kedua Kalinya

Dilihat: 1162

Rencana Facebook membawa koneksi internet ke seluruh dunia dengan pesawat pemancar koneksi bertenaga cahaya matahari maju selangkah. Perusahaan itu menguji drone Aquila mereka untuk kedua kalinya. Untuk uji coba kedua ini, pesawat drone lepas landas dan mendarat dengan baik. Uji coba pertama Facebook tidak berjalan dengan baik.

Facebook pertama kali memperkenalkan drone Aquila pada 2015. Pesawat itu memiliki panjang sayap lebih dari Boeing 737. Berat drone itu sepertiga berat mobil listrik dan bertenaga panel surya yang tersebar di seluruh sayap fiber karbon dan frame. Perusahaan sosial media itu berkata jika pesawat itu bisa terbang 90 hari sekali terbang.

Drone itu akan menggunakan sistem komunikasi berbasis laser untuk memancarkan internet dan berkomunikasi dengan drone Aquila lainnya. Sistem ini masih dikembangkan tapi Facebook berkata jika kecepatan 10 Gbps bisa tercapai.

Facebook mengaku uji coba pertama drone itu sukses saat diadakan Juli 2016. tapi sebuah foto beredar menunjukkan drone itu rusak saat mendarat. Perusahaan itu mengatakan jika hal ini karena kendala angin yang kencang.

Facebook memodifikasi pesawat itu, menambahkan sesuatu pada kedua sayap drone itu. Selain itu mereka juga menambahkan sensor baru, mengupdate software autopilot dan lain-lain.

Penerbangan kedua Aquila terbang hingga ketinggian 914 m dan melayang di langit Arizona selama satu jam dan 46 menit. Drone itu lantas mendarat dengan baik.

 

 

Sumber: Facebook.com

Google Uji Coba Truk Otomatis Tanpa Sopir

Dilihat: 1350

Waymo, perusahaan mobil otomatis yang dulu disebut Google X, baru-baru menguji sebuah truk. Sebuah foto diperoleh oleh BuzzFeed News, menunjukkan truk tersebut. Juru bicara Waymo mengkonfirmasi jika hal itu benar.

Sebelum foto itu beredar, Waymo dianggap hanya mengembangkan teknologi mengendarai otomatis mereka pada mobil, Lexus SUV dan minivan. Saat dihubungi oleh Mashable via email, seorang juru bicara Waymo memberikan pernyataan yang sama kepada BuzzFeed: “Waymo baru-baru ini menguji sebuah truk, dikabarkan truk Class 8 Peterbilt, yang ditambahi dengan platform mengemudi tanpa sopir perusahaan.”

Mereka mengkonfirmasi jika perusahaan itu baru-baru ini sedang melakukan tes pada lintasan pribadi di fasilitas mereka di California. Truk itu juga diuji di jalanan umum dengan seorang operator di belakang kemudi. Sang operator mengendarai truk secara manual untuk mengumpulkan data jalan yang penting untuk pengembangan teknologi.  Perwakilan Waymo juga mengkonfirmasi jika uji coba itu akan diperluas ke Arizona akhir tahun ini.

 

 

Sumber: Yahoo.com

Menjernihkan Air Dengan Mikrobot Pemburu Bakteri

Dilihat: 1279

Di masa mendatang, air yang terkontaminasi bisa diminum lagi dengan proses penjernihan air yang menggunakan robot berukuran sangat kecil. Para peneliti Eropa telah mengembangkan mikrobot bundar kecil yang bisa berenang untuk menangkap dan membunuh bakteri mematikan dari air. Dengan demikian bakteri ini bisa dihilangkan dari air terkontaminasi.

Cara ini berbeda dengan cara yang digunakan saat ini. Sekarang kita biasanya menjernihkan air dengan menambahkan klorin atau zat kimia lain dalam dosis tinggi. Masalahnya zat kimia ini bisa membuat orang sakit. Selain itu, beberapa bakteri kebal terhadap zat kimia tersebut.

Sekarang para peneliti Spanyol ini mencoba memakai mikrobot itu melawan bakteri. Tes ini dianggap sebagai tes untuk menciptakan sistem penjernih air yang bebas zat kimia. Mikrobot ini didesain dengan cerdas, terinspirasi dari partikel Janus yang dikembangkan tahun lalu oleh tim Max Planck. Setengah bagian dari mikrobot diciptakan dari magnesium. Setengah bagian lainnya diciptakan dari campuran besi, emas dan perak. Sisi magnesium yang menjadi sumber tenaga untuk bergerak karena bereaksi dengan air dan menciptakan gelembung hidrogen. Sementara sisi lainnya didesain untuk mendeteksi dan membunuh mikroorganisme.

Untuk menguji mikrobot itu, para peneliti memasukkan mereka ke air yang memiliki bakteri E.coli dalam jumlah tinggi. Bagian magnesium bisa bertahan selama 15 hingga 20 menit. Dan selama itu, mikrobot berhasil membunuh 80 persen bakteri. Karena mungkin tidak sehat meminum air penuh robot kecil, mereka akan dipindahkan dengan magnet. Mikrobot itu tidak meninggalkan limbah berbahaya di dalam air.

 

 

 

Sumber: American Chemical Society.

Anda disini: Home Media Publik Sains dan Edukasi
STP Homepage

Kawasan Solo Technopark (STP) secara resmi berada di bawah pengelolaan Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta.

Layanan Pengguna